"Beli satenya, jangan beli kambing?"

Alexa bertekad tidak ingin terlalu ketergantungan pada orang tua. Setelah mendapatkan sarjana muda dia memutuskan untuk mencari pekerjaan sambil meneruskan kuliahnya. Walaupun dalam penampilan berjilbab tak mengurangi keanggunannya dalam berbusana. Kulitnya yang putih bersih dengan hidung yang agak mancung, menambah kecantikannya, tak heran kalau dia punya banyak teman. Dari performancenya dia sangat gigih , pintar tapi sabar, dengan bekal motor dia mondar mandir rumah kantor kampus.Belum lagi sampai dirumah dia juga aktif di pengajian pada mesjid yang kebetulan tak jauh dari rumahnya. Kelihatannya pengajian yang diikutinya sangat effektif, karena terlihat kepahamannya dalam beragama kelihatan dari praktek ibadahnya sehari hari. Belum lama dia megikuti pengajian sekitar kelas dua SLA bisa merobah penampilan menjadi muslimah "beneran". Jarang wanita yang saya temui seperti itu, kebanyakan ikut pengajian tetapi praktek ibadahnya begitu begitu saja, walaupun disampaikan hukum hukum Allah dan Rasul tetap saja seperti membaca koran, habis baca buang atau sekedar tahu tak lebih.Tidak ada kesan bahwa punya keyakinan tentang hari akhirat. Padahal perjalanan akhirat itu sangat panjang dan berat. Memang pak Fadli syukur punya putri yang baik dan takzim, mengagungkan orang tua dan orang orang yang dituakan. Pak Fadli tak kurang sibuknya, sering dinas luar kota juga aktif di kemasyarakatan lumayan dia orang "pejabat" juga dikantornya, terhormat, penampilannya juga yah laki laki beneran. Tamu silih berganti tidak dikantor tidak juga dirumah ada terus. Mungkin cobaan berat buat pak Fadli urusan dinas dan teman yang sering harus keluar kota berhari hari. Tapi umum sekeluarga selalu aktif di pengajian. Maklumlah kehidupan luar kalau tidak diimbangi dengan kepahaman agama yang kuat, kita bisa terpengaruh hal hal yang melanggar keagamaan. Padahal semua itu dari Allah adalah haq, semua kita tau "haq" artinya pasti dilaksanakan Allah apa yang sudah menjadi hukumnya.
Jamaah di mesjidnya pak Fadli banyak muda mudinya mahasiswa , pekerja, kadang beliau juga dapat giliran menyampaikan nesehat agama. Sering sekali beliau mengingatkan pemuda pemudi tentang soal pernikahan yang harus dipersiapkan baik moral maupun spritual utamanya yang terkait dengan ke Islamannya. Pemuda pemudi yang Islamnya matang akan membentuk muslim yang solih solihat dan taat beribadah dan diharapkan bisa jadi pemimpin yang baik. Tiap jamaah hendaknya mengerti konsep pernikahan, jangan sampai pernikahan hanya pelepas hawa nafsu semata, jangan sampai pernikahan formalitas bagi yang merasa punya harta dan punya kekuasaan. Pernikahan adalah sahnya mempersatukan dua insan. Pernikahan adalah sarana untuk menciptakan generasi yang solih solihat, sekaligus mewujudkan cita cita bangsa dan melestarikan agama itu sendiri. Muslim harus memahami aturan Allah mana menikah mana berzina. Mengingat fakta jaman pergaulan bebas, dan berbuat bebas telah merasuk semua ummat manusia, tak terkecuali pada orang orang yang beragama khususnya generasi Muslim. Sampai perbuatan kufur seperti onani dan masturbasi, apalagi perzinahan dilaksanakan terang terangan dan diceritakan dengan penuh kebanggaan, seperti sudah menjadi bahan pembenaran saja layaknya. Nauzubbillah. Ironinya muslimah belum siap dengan kenyataan hukum yang diyakininya tentang hukum berzina dan mana hukum menikah dan segala dampak dunia akhiratnya. Sementara itu ditengah tengah masyarakat pembinaan ummat muslim sangat minim apalagi pada generasi mudanya. Begitu juga rumah tangga Muslim baik yang sudah tua maupun rumah tangga muda kurang mendapat pembinaan dengan baik, maka tidak heran apa yang terjadi di masyarakat sangat menyesakkan dada. Pak Fadli minta para jamaah banyak berdoa, " allahumma inni asauka huda , wattoqo , wal afafa, wal righina"  yang artinya Ya Allah, sesungguhnya aku mohon diberi hidayah, dan ketaqwaan, dan al afaf dan ghina.
Hidayah, maksudnya dimana kapanpun dan dalam keadaan bagaimana selalu diberi hidayah taufik tidak sekedar ilmu dan amal. Ilmu dan amal dikerjakan dengan karena Allah, dan mudah ringan karena Allah memberi hidayah taufik
Ketaqwaan, dimanapun berada dalam keadaan sendiri, ataupun ada orang tidak ada orang, tetap menjalankan ketaqwaan, menjalankan perintah Allah Rasul dan menjauhi Larangan Allah Rasul
Al afaf, orang yang tidak cepat mengeluh, tidak terpengaruh, prawiro.
Ghina, Rejeki yang cukup, bukan harta yang berlimpah, tapi rejeki apa yang diperlukan dicukupi.

Tantangan yang menjadi kenyataan pak Fadli dalam kehidupannya, apa yang disampaikan dan dinasehatkan pada jamaahnya, betul betul mengenai dirinya sendiri. Kedinasan dan pergaulan yang tak bisa dihindari, yang sesungguhnya ditangisinya didalam hatinya, yang hanya bisa diungkapkan lewat nasehat nasehat agama. Banyak hal yang sepertinya, pak Fadli menghadapi jebakan jebakan "maut" dari teman sepergaulan atau rekan rekan dinasnya, baik tidak sengaja maupun disengaja karena kesalahpahaman menggeneralisir orang. Tidak sekali kamar hotelnya sudah disediakan wanita wanita cantik dari rekan bisnis untuk menggolkan suatu proyek, tentu saja ini suatu pelecehan bagi pak Fadli, pukulan telak bagi si pebisnis. Kadang kadang minuman halal dicampur dengan minuman yang tidak halal, jangan ditanya soal uang dan parcel. Kalau bukan keimanan yang kuat dan selalu terjaga dan Allah masih melindungi , mmmhh, entah apa jadinya. Istimewanya pak Fadli walau keluar kota dia berusaha mencari teman teman yang pernah sepengajian dengannya , sehingga sedikit banyak terjaga ada yang menasehati. Kadang kadang teman teman sepengajian juga menyarankan "cari jalan halal, pak Fadli, yang tidak dosa, untuk penjagaan, iblis itu amat sangat tipu dayanya, kita manusia biasa", sepertinya pak Fadli maklum  itu kemana arahnya.

Setiap pagi  beliau dan istrinya berangkat ke kantor bareng, kalau pak Fadli tidak keluar kota, cuma saja berlainan tempat kerja. Sebenarnya pagi itu cerah, tapi tidak tau ujung pangkalnya , ujuk ujuk Bu Fadli, sepertinya mengatakan sesuatu, antara jelas dan tidak , pak Fadli seperti kaget, tak mengira, apa yang diucapkan istrinya. Makin lama makin keras, tak jelas arah kemana bicaranya. Cuma dia berusaha menguasai keadaan, apalagi sedang nyetir, bahaya. Bu Fadli berbicara seperti orang tidak sadar, bicara terus. Pak Fadli hanya taawuj terus, audzubillahiminasyaithonirajim ber ulang ulang. Tak tahu harus bagaimana. Harus menanyakankah, ditanggapikah?, harus mengingatkankah, mana yang baik. Tapi seperti diilhami, dia diam saja, sebab tak tau ujung pangkalnya. Di depan kantor Bu Fadli, tidak seperti biasanya, salam, kali ini turun begitu saja, sambil pintu dibiarkan tak melihat sedikitpun tidak. Pak Fadli tak berani melanjutkan perjalanan, diam diam memarkir mobilnya tak jauh dari depan kantor istrinya, takut kalau kenapa kenapa. Akhirnya dia memutuskan untuk mengambil cuti untuk menyelesaikan  masalah keluarga. Untungnya dia kenal dengan salah satu teman istrinya bu Nur. " Hallo bu Nur, ini Fadli"." Tumben ada apa nih". " Ini tadi istri saya di rumah kelihatan sakit, minta tolong kalau ada apa apa telpon saya bu, tapi jangan kasi tau kalau saya nelpon ibu". " Oh ya beres, sudah lama ga maen kerumah nih, bawa tuh Alexa". " Insya Allah bu, terima kasih ya bu" " Sama sama".
Hari itu pak Fadli jadinya tidak masuk kantor, ambil cuti, dia diam diam menunggu di parkiran kantor istrinya, sambil mencoba nelpon  dengan Alexa. " Al , panggilan Alexa, " selama papa diluar kota ibu suka ke mesjid ngaji ga". " Biasa pah". " Ada apa pah, kok tumben". " Ya ini papa ga ngantor, takut ibumu ada apa apa, ya sudah nanti ceritanya dirumah saja , ya, Assalamualaikum"
Begitulah, ketika orang mengatakan iman pada Allah, orang tidak akan dibiarkan begitu saja, tentu dicoba untuk mengetahui apakah orang itu berkata benar atau dusta. Cobaan itu sangat banyak datangnya ber ulang ulang. Tapi cobaan yang paling panjang, yang melelahkan dan tak dapat dihindari adalah cobaan bersuami istri. Karena itu pasangan suami istri harus betul mempersiapkan dirinya ketika akan memutuskan akan berumah tangga. Utamanya istri sebagai asalnya anak perempuan dalam suatu keluarga, maka ketika dia ditikahkan , "bakti"nya pindah dari orang tua ke suaminya, dalam arti bukan memutus silaturahim. Sebaliknya suamipun harus ngawaki bahwa ketika menikah dia punya dua orang tua yang harus di takziminya  secara adil, bapak ibunya sendiri dan bapak ibu istrinya.
Sore itu dimobil menuju pulang bu Fadli cuek saja, tapi seperti tidak terjadi apa apa. Dirumah Alexa sudah lebih dulu sampai. Minum teh sore pak Fadli anak beranak biasa kumpul ngobrol diberanda belakang cerita pengalaman masing masing yang dirasa perlu. "Selama papa diluar kota, siapa yang mengisi acara nasihat di mesjid?" " Pak Nur pah, lumayan bagus nasihatnya terutama untuk kaum muda mudi dan ibu ibu", kata Alexa. " Beliau menasehati agar para jamaah belum atau akan menikah belajarlah ilmu tentang menikah. Perhatikan juga kemahroman pasangan. Jangan sampai menikahi pasangan yang haram untuk dinikahi, seperti saudara sepersusuan, saudara kandung, dan sebagainya. Syarat untuk menikah juga perlu dipenuhi seperti dewasa dan sadar, adanya wali, adanya mahar, dan adanya dua orang saksi terpenuhinya proses ijab qabul, itu saja syaratnya. Mohon maaf , tidak ada ketentuan seperti peraturan yang ditambah tambah seperti jaman dulu terkenal "pp no 10". Menikah harus dilancarkan, sebab itu sunnah Rasul".Dalam hati pak Fadli ingat hadist yang menyatakan bahwa akan datang suatu jaman yang laki laki meramut sampai 50 istri, padahal sampai akhir jaman muslim hanya dibolehkan maksimal empat istri, gak kebayang cobaan pada jaman seperti itu. Alexa bebas saja meluncur menirukan nasehat pak Nur "Perzinahan harus dijauhi, didekati saja tidak boleh. Mau menikah itu pacaran dulu, bergaul bebas dulu seperti apapun alasan baiknya menurut pandangan manusia, itu haram pasti siksa neraka. Yang dinas dinas yang sering keluar kota, maaf , jangan didengarkan 'canda canda an" harom seperti, ' dari pada beli satenya, jangan beli kambing', jangan. Itu yang sering dinas keluar kota, pasti sudah tau." . "Oh sampai begitu?" pak Fadli bertanya serius , tapi tak mengharapkan jawaban. Nyamberlah bu Fadli, seperti bensin di dekat api. " Papa bagaimana kalau dinas?" seperti anggota tim penyelidik. " Yah ...benar itu pak Ustad ( maksudnya pak Nur ) seperti itu pasti ada, terpulang keyakinan keimanan kita. Kalau kita mengikuti kehidupan "luar", tammatlah akhirat kita, dan dunianya pasti bisa hancur juga". Dalam hati pak Fadli meraba raba inilah mungkin yang jadi pikiran istrinya, yang tadi pagi marah marah tak menentu. " Maka itu dimana kita berada "senjata" yang paling ampuh kita adalah doa dan dzikir. Godaan syaiton iblis itu bukan isapan jempol cerita kosong, Allah sudah menyampaikannya, sampai iblis mengatakan, sebab Engkau telah menjadikan aku golongan yang sesat ya Allah, berilah aku tempo, aku akan menggoda anak turun Adam, sampai Engkau tak menemukan seorangpun manusia masuk sorga, kecuali orang yang beriman.Utamanya dukungan keluarga, jangan sampai larangan Allah bersangka jelek syakudhon dilakukan. Allah tergantung persangkaan hambanya kalau sangka jelek bisa terwujud jelek, karena itu Allah memerintahkan untuk berdoa yang baik baik, apalagi pada keluarga, makbul". Dalam pikiran pak Fadli, besok kapan, kalau cobaan terus berlangsung akan kupilih berpuasa utamanya puasa Daud AS, kalau tiba waktu nya qodar menentukan pilihan menjalankan sunnah Rasul lebih utama. " Sekarang ini" , pak Fadli meneruskan, " kepahaman agama harus ditingkatkan terus, tidak boleh lengah apalagi meremehkan. Sebagai orang tua kita harus menyadari hak asasi berilmu, takwa, ikhlas, santun, bertanggung jawab, dan sabar. Kalau sama sama kita perjuangkan sifat semacam ini dapat menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga kita." Kelihatannya ada penyesalan di airmukanya bu Fadli, tapi apa mau dikata, satu satunya jalan adalah bertaubat nasuha, tidak di ulangi lagi.

































No comments:

Post a Comment