Siang itu panas sekali, Abul pulang sekolah dengan berkeringat membasahi seragamnya. Biasa si" raja" kalau pulang suasana jadi ramai saja. Dia baru saja naik kelas dua SD , bangganya bukan main pulang hari itu. " Assalamualaikum pah", berteriak, sambil menuju kepintu menemuiku. Aku keluar menyambut " Alaikum salam warahmatullah". "Abul doanya selesaikan dulu", kataku. "Oh iya pah, lupa". "Bismillah walajna wabismilah kharojna wa ala robbina tawakalna". Alhamdulillah. Dia sudah tahu kebiasaan kalau pulang sekolah, ganti baju dengan baju untuk di rumah cuci tangan pakai sabun, meletakkan buku dan peralatannya pada tempatnya. Biasanya si bibi menyiapkan minuman dan snack seadanya sambil menuggu pulang kakak kakaknya. Sambil makan siang ada gelagat yang asing setengah berbisik kekakaknya yang kelas enam. Apa yang dibicarakan tak jelas, cuma air mukanya cerita dengan wajah bangga. Sementara kakaknya kaget, "sst", "ga boleh". Pura pura ga tau, anak anak diajak solat berjamaah di mesjid.
Besok hari minggu kakaknya yang mondok sambil sekolah diluar kota ada berita mau pulang sebentar ada perlu. Bertanya tanya dalam hati, ada apa anakku ini. Ibunya juga heran, "ada apa pah si Putri mau pulang?". " ya kita lihat nanti, ada apa." Putri anak yang tua, sekolahnya di SD sampai SMP memuaskan termasuk akhlaqul karimahnya cukup lumayanlah. Kita orang tua perlu pembekalan persiapan buat anak yang akan terjun kedunia masyarakat umum. Sasaran agar anak anak bisa 'alim faqih, akhlaqul karimah , dan mandiri merupakan kesepakatan sekeluarga. Pertimbangannya susah kalau ingin anak bisa 'alim dan faqih dalam agama serta punya akhlaqul karimah kalau disekolah sekolah umum. Karena itu pilihan mondok sambil sekolah adalah hasil pilihan dan keputusan musyawaroh keluarga.
Sekeluarga tak langsung pulang kerumah setelah Putri tiba di terminal bis, kami jalan jalan dulu sambil menuju rumah makan di pinggiran kota makan sambil ngampar di tikar. Abul dengan kakaknya main bola plastik yang sengaja dibawa dari rumah. Ketika makanan kecil pembuka sudah terhidang semua pada ngumpul. Panasaran , " Putri apa ada keperluan yang mendesak, sambil memerlukan pulang kan baru tiga bulan di pondok?". " Ya nak", ibunya nimbali. " Tak penting pah, cuma Putri merasa tak betah sekolahnya kalau seperti itu". "emang sekolah ada apa nak?". Siswanya pah, itu tidak mandiri". "Maksudmu?". "Iya, kalau ada ulangan, bukannya kerja sendiri, mereka menunggu dan mengganggu usaha Putri ". " Ada PR apalagi, nunggu hasil yang dikerjakan Putri". Ooo..Nyontek?". " Iya mah". " Kan ada guru mengawasi!" Air mata Putri kelihatannya sudah ada yang jatuh, matanya agak merah wajahnya agak kusut dan pucat, sepertinya anak ini tertekan sekali. Dapat dimaklumi sejak SD sampai SMP , sekolahnya memang bagus dan bertanggung jawab, dan dia sudah terbiasa kerja mandiri. Sepertinya dia sedang menghadapi dilematis, antara toat dan takzim orang tua dengan menghadapi perilaku masyarakat seperti itu. "Putri sendiri takut mengasi tahu temannya itu?". " Sudah pah, tapi tetap saja begitu dan sebagian besar sama. Dan sakitnya lagi kalau pas Putri salah jawabannya, Putri di permalukan". " Gurunya bilang apa". " Kerja sendiri sendiri ya!" " Terus pergi"
"Kak Putri jangan sedih!". " Nyontek itu seni!", "Hah..." aku dan ibunya berbarengan, kupingku kayak disamber petir. Gak nyangka anak kelas dua bisa bicara begitu. "Abul kok bilang begitu?". " Teman Abul yang bilang, nyontek itu seni katanya". "Kemarin Abul dan kawan kawan berhasil nyontek". " Dosa tau!", kakaknya setengah kesel. " Seni ga dosa kak". "Caranya bagaimana , bilang ga dosa." Begini kak. Pertama harus kerjasama. Yang pintar kerja baik baik, kita janjikan siapkan makanan buat dia. Ketika dia selesai, kita buat sibuk pak guru, tanya ini tanya itu, ijin ini, ijin itu,. Ketika itulah nyontek berlangsung, itu kan seni namanya"
"Sudah, sudah.... kita makan dulu, nanti cerita dilanjutkan sambil santai.........."
"Begini ya anak anak, mudah mudahan kalian bisa paham apa yang ingin papa sampaikan. Orang orang bijak dan pandai sudah meneliti, bahwa siswa yang punya kebiasaan menyontek di sekolah cenderung menjadi orang dewasa yang tak jujur di dunia kerja. Sifat terbiasa menyontek dan tidak jujur, ketika jadi pekerja, sifat itu akan terbawa bawa, akhirnya ujung ujungnya tinggal dirumah perdeo". "Apa rumah perdeo, pah?". " Penjara, tau", kata si kakak. "Bagaimana Bul, mau tinggal dirumah perdeo?" ." Lagi pula sekeluarga jadi malu, hidup bertetangga malu, mau keluar rumah malu, ketemu teman malu. Bagaimana kalau sudah begitu?" Semua anak anak seperti dengan pikirannya sendiri. Putri menarik nafas dalam dalam.
"Putri, mengenai kasusmu nak, perlu kita pertimbangkan dengan pikiran jernih. Papa anggap kamu dan papa sama dewasa, kita bicara orang dewasa ya nak. Begini, pada kenyataannya tidak semua anak anak yang dikirim orang tuanya belajar ke pondok itu, semua anak yang tidak bermasalah. Justru kebanyakan yang bermasalah di keluarga, orang tuanya ga sanggup dikirim ke pondok agar jadi baik. Ironis memang tapi kebanyakan itulah kenyataannya. Sekarang baiknya permasalahan ini kita memandangnya dari sudut mata sebagai saudara seiman. Kita orang yang beriman semua punya hak dan kewajiban yaitu amar makruf nahi mungkar. Ngerti maksud papa?" " "ya pah". Nah, ketika teman temanmu masih berkelakuan begitu lagi, kamu persilakan dia nyontek, cuma Putri harus berani nasehat. Katakan 'kita', dikirim orang tua dengan harapan kita bisa mandiri, orang tua kita akan kecewa kalau mengerti kalau kita tidak bersungguh belajar. Lebih lebih lagi Allah tidak pernah tidur, bahkan Allahu alimun bi dzatisudur, Allah mengetahui keadaan hati kita. Cukup begitu, terserah dia mau terima atau tidak , sepanjang kita menyampaikannya dengan irama baik, dengan suasana hati yang ridho karena Allah, akan beda hasilnya. Adapun dia masih bertanya ini bagaimana, itu bagaimana dan bla bla blu dan sebagainya, jawab saja sepengetahuan yang Putri tahu dan bisa. Itu untung buat Putri, pelajaran itu akan lebih kuat melekat pada Putri, apalagi sampai dia paham, berarti Putri berhasil menguasai pelajaran itu. Pahalanya disisi Allah luar biasa buat Putri. Pahala amar makruf dan pahala dari orang yang Putri amar maruf menjadi baik, itu juga kita dapat bagian, dabel.
Adapun keadaan sekolah termasuk gurunya, ya dimaklum saja. Karena sekolahnya milik bersama, sama sama punya orang seiman, sobar, kita doakan menjadi lebih baik, kita agungkan. Jadi nanti tidak ada beban pada Putri, belajar menjadi tenang waktu jam mondok juga tenang karena kita mengharapkan pahala dan pertolongan dari Allah semata. Papa doakan Putri sukses dan barokallah ya". Iya pah sekarang Putri paham, mohon doa papa mamah terus. Sekarang Putri merasa nyaman dengan penjelasan itu. Tiga tahun berselang ternyata tidak lama, Putri menjadi juara sekabupaten, mendapat hadiah dan piala, menjadi guru dipondok sebelum meneruskan ke perguruan tinggi. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mudah mudahan bermanfaat

No comments:
Post a Comment